.

Mempersembahkan Sebuah blog norak dari Celotehan Seorang Pemuda Desa yang aneh dan tidak terkonsep kayak kapal pecah, Syukur-syukur kalau masih bisa awet sampai punya anak-cucu-cicit ...

Senin, 05 November 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Andai Aku Menjadi Ketua KPK
Aku tidak berharap di negeri ini para koruptor masih  berkembang biak  dengan makmur sentosa, bercanda dengan senyuman rakusnya  setelah membaca tulisan dari Saya yang baru berandai-andai menjadi ketua KPK, karena  para pencuri itu tidak akan lepas mungkin setelah secepatnya saya dilantik menjadi ketua KPK yang baru.

Andai Saya menjadi Ketua KPK?  tentunya  saya harus waras dengan kejujuran dan kesetiaan,  karena saya  tahu kalau berani jangan  takut-takut, kalau takut jangan berani-berani. Akan saya  sapu terlebih dahulu rumah (baca: instansi) yang kotor, karena saya yakin akan saya temukan bau tikus rakus yang berdasi di laci sudut sempit meja usang yang hampir di makan rayap yang pondasinya hampir roboh. Setelah bersih akan saya  bersihkan sarang laba-laba putih yang telah kusut di atas ventilasi jendela rumah yang sedikit reyot  berbunyi  krikk..krikkk engsel pintu yang hampir lepas. Saya pun bergeser sedikit ke arah langit-langit rumah (baca: KPK ), akan saya  memotivasi cicak cicak yang warnanya kusam agar lebih bersemangat lagi menangkap nyamuk yang gigitannya menyerupai buaya  yang liar.

Banyak Sampah dan Debu yang harus dibersihkan saya pun keluar agak jauh dari rumah, terlihat pandangan tajam mata buaya yang bertaring pemangsa cerdik yang ingin mencabik-cabik mental, moral, dan akhlak Ketua pemberantasan korupsi ini. Saya tahu masih banyak koruptor yang masih bersembunyi diluar sana dan saya  ajak semua orang yang jujur yang setia  untuk bekerja sama bersama-sama memberantas para koruptor-koruptor dengan sukarela.

Andai Saya jadi ketua KPK? tentunya amanah pemerantasaan korupsi saya tegakan bukan hanya dengan kata tapi dengan aksi. Memang telah banyak cara untuk memberantas korupsi, dari peraturan yang dibuat lalu sengaja dilanggar, aksi Kampanye korupsi yang hanya formalitas dan berlalu begitu saja di telinga para koruptor, dari diskusi dan workshop-workshop yang ujungnya hanya menjadi sop/sup buntut tak berkuah. Entah memang koruptor di negeri ini sudah semakin licin seperti belut tanpa sisik dan berenang di rawa-rawa keruh, rasa malupun hilang selihai para koruptor menipu rakyat yang acuh tak acuh.

Apakah saya masih  pantas menjadi ketua KPK di negeri ini karena petugas pemberantasnya masih punya hati saat penyidikan dan para koruptornya pun mulai setengah hati, mungkin saya akan sukses bertugas menjadi ketua KPK di belahan benua lain yang keras semi  militer. Apakah cara hukum eksekusi semi militer pantas untuk negeri ini?? (hiraukan saja, saya hanya ngelantur )

“Mungkin saya terlalu kejam ya Tuhan melawan koruptor yang juga hambaMu.”

Apakah ini terlalu keras, kalau satu peluru untuk satu koruptor, satu gantungan tali untuk satu leher, satu tempat pengasingan khusus, atau mungkin  di penjara seumur hidup dibawah tanah tanpa computer, internet, tv, hp, ataupun seperangat alat salon untuk koruptor wanita.  Apakah ini satu-satunya jalan yang bisa membuat efek jera bagi para koruptor di negeri ini. Semoga saja para koruptor cepat sembuh dan jera, tidak lagi pura-pura buta dan tuli untuk membela diri, karena saya yakin mereka orang yang cerdas yang gelap mata demi kenikmatan sesaat mudah-mudahan saja mereka kembali ke jalan yang benar, secepatnya. AMIN. 

"Jangan pernah berhenti mengigatkan KORUPTOR untuk berhenti KORUPSI", dengan berbagai cara tulisan, foto, poster, spanduk, stiker, musik, lagu, filem, dan hal positif lainnya.

God Bless INDONESIA, God Bless KPK.

Terima Kasih.



#LombaBlogKPK
Twitter @tempodotco dan @KPK_RI
Facebook Page "Tempo Media" dan "Komisi Pemberantasan Korupsi"
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih banyak,anda telah memberi komentar